April 27, 2008

My New Blog

Please visit mynew blog http://doeljoni.blogsome.com

                            

October 18, 2005

Pindah Blog

I decide not to continue this blog.
I will concentrate at http://blog.doeljoni.sysadmin.or.id
See you there !

September 15, 2005

Kreatif

Kreatif, sebuah kata yang sangat saya butuhkan. Terus terang, entah sejak kapan, sering banget kehabisan ide atau gagasan untuk ngelakuin sesuatu (Mungkin sudah sejak awal duduk di bangku pendidikan ya ?). Mau ngelakuin gini, bengong dulu, bingung mau mulai dari mana dan bagaimana. Ujung-ujungnya jadi pesimis, skeptis dan males… hehehehe :P

Terus terang saya sadari, akhir-akhir ini saya mengalami peningkatan kebutuhan akan kreatifitas. Ya, kreatifitas sebagai pemecahan masalah. Sementara sumber kreatifitasnya sendiri krisis. Ha ! Ini masalah lagi, mbulet ae. Memang saya bukan penulis, pelukis, seniman, usahawan maupun artis. Tapi kreatifitas tetep butuh donk ! Tentunya dalam wujud yang lain, yang sesuai dengan kodrat dan kondisi saya hehehehee :P.

Tapi bentar dulu… kreatif itu apaan sih ? Saya sendiri juga ndak tahu hehhee… :D Selama ini cuman ikutan latah make kata-kata tersebut.

Browsing sana-sini,… akhirnya nemu beberapa butir ungkapan para begawan, para master, dan para empu. Lumayaaan… sementara ndak usah modal beli buku :P

Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta. Oleh segelintir orang Kreativitas dianggap sebagai suatu kemampuan untuk menghasilkan gagasan baru atau wawasan yang segar. Kreatifitas adalah jantung dari inovasi. Tanpa kreatifitas tidak akan ada inovasi. Sebaliknya, semakin tinggi kreatifitas, jalan ke arah inovasi semakin lebar pula.

Untuk jadi kreatif ternyata tidak cukup berbekal skill dan kemampuan kreatif belaka. Kreatifitas juga membutuhkan kemauan atau motivasi. Mengapa? Sebab memiliki ketrampilan, bakat, dan kemampuan kreatif tidak otomatis membuat seseorang melakukan aktivitas yang menghasilkan output kreatif. Ia bisa memilih tidak melakukan aktivitas kreatif. Jadi faktor dorongan atau motivasi sangat penting di sini. Beda antara orang kreatif dan yang tidak hanyalah pada kemampuan orang kreatif dalam menghalau aral (penghalang) kemampuan kreatifitas.

Ooohhh ternyata :

  • semua orang memiliki karunia yang menakjubkan dalam hal kreatifitas.
  • kreatifitas butuh : motivasi

Gitu toh ?

Ada yang lain ? Iya, ada beberapa jenis kendala yang menumpulkan kreatifitas :

  • pola pikir reproduktif yang artinya jika dihadapkan pada masalah, seseorang akan cenderung merespon dengan cara yang sama, mengulang pola pikir atau cara pemecahan lama yang sudah terbukti berhasil. Itu sebabnya pola pikir reproduktif menjadi salah satu penyebab utama kekakuan berpikir, dan dengan demikian menjadi aral kreatifitas. Seringkali, pola pikir reproduktif berlangsung secara mekanikal atau nyaris otomatis. Dan ini terkondisikan oleh hasil pendidikan model skolastik atau lingkungan yang menuntut cara-cara berpikir praktis dan sangat terstruktur. Sampai pada saat kita mentok dalam upaya pencarian variasi solusi, di titik itulah baru kita sadari keterbatasan pola pikir reproduktif.
  • paradigma anti konflik, mereka dengan paradigma ini umumnya kurang menyukai perubahan, atau bahkan membenci perubahan yang lebih dianggap sebagai ancaman terhadap kemapanan daripada dipersepsi sebagai peluang perbaikan. Padahal, kreatifitas seringkali merupakan aktivitas yang melampaui kemapanan. Kreatifitas dapat terlahir atau terstimulasi melalui benturan, persinggungan, percampuran, dan penyatuan berbagai unsur yang berbeda atau bahkan saling bertentangan.
  • turunan dari paradigma adalah keyakinan yang bisa menjadi pendorong atau justru menjadi faktor penghambat kreatifitas.Kreatifitas sering memunculkan output baru yang berlawanan atau bahkan mengalahkan hal lampau, mengalahkan senioritas, mengalahkan pengalaman, atau mengalahkan hirarki. Sampai batas mana individu bisa mengelola aral ini, sampai pada batas itulah ia bisa menyediakan ruang kreatifitas bagi dirinya sendiri.
  • rasa takut membuat seseorang cenderung enggan mewujudkan potensi dan mengembangkan kreatifitasnya.
  • motivasi rendah, yang membuat orang cenderung kurang menyukai kerja keras, kurang tekun, dan enggan memanfaatkan kemampuan kreatifnya untuk memecahkan tantangan.
  • kebiasaan, Misalnya; suka menghindari masalah (bukannya mencari solusi), malas berpikir, menghindari tantangan, menghindari tanggung jawab, menghakimi ide-ide baru, berpuas diri, menghindari hal-hal imajinatif, dll. Dihadapkan pada kebiasaan-kebiasaan maka tantangan kreatifitas tidak ada artinya.
  • situasi sosial yang kurang apresiasif atau bahkan mengekang. Pendidikan tradisional misalnya, sering dianggap sebagai salah satu produk sosial yang kurang memberi tempat bagi kreatifitas.
  • organisasi yang konservatif biasanya kurang merangsang kreatifitas. Sebut pula batasan-batasan seperti hirarki, aturan yang tidak fleksibel, ketiadaan wadah bagi ekspresi kreatif, egoisme antar departemen, buruknya komunikasi, atau situasi organisasi yang sangat terpolitisasi.
  • faktor gaya kepemimpinan juga berpengaruh secara signifikan terhadap proses kreatifitas. Jika pemimpin organisasi kurang memberi ruang kebebasan, kurang bisa momotivasi, tidak mampu memberi tantangan, tidak mampu mengelola hasrat kreatif, kurang memberi penghargaan, tidak memberi kepercayaan, tidak mendukung, dan tidak mampu menciptakan lingkungan yang kondusif, maka kreatifitas individu-individu dalam organisasi jelas akan terhambat. Seberapa kreatif individu- individu dalam tim, namun jika tidak didukung oleh kemampuan manajemen kreatif pemimpinnya, hasilnya juga kurang menggembirakan.

Well, jadi kalo saya bisa ngatasin semua itu, harusnya kreatifitas lancar-lancar donk ? Ya… moga-moga aja… (iyo nek pas gak gendeng… :D ). Kesimpulannya harus ngelawan itu semua, ya gak ? Yak opo rek ? Paling gak saya ada ’senjata’ buat ngelawan ‘kemiskinan kreatifitas’ =))

Referensi :

May 13, 2005

Pengantin Bidadari

Sebuah kisah indah dari Blog rekan saya : Abu Rasyidin ( http://aburasyidin.blogspot.com/ )

Sebuah roman alegoris
————————-

Sebagai seorang pengantin, wanita lebih cantik dibanding seorang gadis
Sebagai seorang ibu, wanita lebih cantik dibanding seorang pengantin
Sebagai istri dan ibu, ia adalah kata-kata terindah di semua musim
dan dia tumbuh menjadi lebih cantik bertahun-tahun kemudian…

***
Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid. Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat. Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.

Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah. "Coba engkau temui langsung Baginda Nabi, semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu", nasihat mereka.

Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi. Sambil tersenyum beliau berkata: "Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?" "Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun.

"Katakanlah aku yang mengutusmu", sahut Baginda Nabi.
"Baiklah ya Rasul", dan Zulebid segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah si Fulan.

Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh Fulan
"Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?" Tanya Fulan.

"Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si A." Jawab Zulebid sedikit gugup.

"Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada putriku."
Fulan menemui putrinya dan bertanya, "bagaimana pendapatmu wahai putriku?"

Jawab putrinya, "Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah saw, maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya."

Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya.
Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata," duhai Anda yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?"
Jawab istrinya, " Engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin."

Zulebid tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad dalam perang.

Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya.
"Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang.
Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita ini."

Istrinya menyahut, "Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu"

***

Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhi…ketika sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya. Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang berseliweran di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya. Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat. Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Teringat akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian bersama teman sepermainannya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati, dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya. Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyum yang begitu manis menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya. Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid. Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum menghiasinya….Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.

***

Senja datang
Angin mendesau, sepi…
Pasir-pasir beterbangan…
Berputar-putar…

Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Di antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar di tumpukan mayat musuh. Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu tempat. Berdampingan dengan para syuhada lain.
Tanpa dimandikan…
Tanpa dikafankan…

Tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid.
Rasulullah terpekur di samping pusara tersebut.
Para sahabat terdiam membisu.
Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti menahan isak tangis. Air mata berlinang di dari pelupuk mata beliau
Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau berubah menjadi cerah.
Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata beliau.

Akhirnya keadaan kembali seperti semula.
Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah.
"Wahai Rasulullah, mengapa di pusara Zulebid engkau menangis?"
Jawab Rasul, "Aku menangis karena mengingat Zulebid. Oo..Zulebid, pagi tadi engaku datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin."

"Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?" Tanya sahabat lagi.
" Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulebid," Jawab Rasulullah.

"Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke samping?" Tanya mereka lagi.

"Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Zulebid, beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulebid. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya…."

***
Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali. Ketika terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi, Pencipta segala Maha Karya.

Malam menjelang…
Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata.
Lamat-lamat ia seperti melihat Zulebid datang dari kejauhan. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan pula.
Terdengar Zulebid berkata, "Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini pabila aku menyebut namamu akan menggumamkan cemburu padamu…. "
Dan kan kubiarkan engkau yang tercantik di hatiku.

Istri Zulebid, terdiam.
Matanya basah…
Ada sesuatu yang menggenang disana..
Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi..
Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir..
Ia menggerakkan bibirnya..
"Suamiku, aku mencintaimu…
Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita..
Aku ikhlas….

***

Somewhere over the rainbow, way up high
There’s a land that I heard of once on a lullaby
Somewhere over the rainbow, skied are blue
And the dreams that you dare to dream
really do come true..

Dan,
Akan kemanakah kumbang terbang
Pada siapa rindu mendendam
Kekasih yang terkasih
Pencinta dan yang dicinta
Semua berurai air mata
Sedih, ataukah bahagia…..?

***

Jakarta, 12 mei 2005
Salam,
Untuk para pengantin bidadari

April 17, 2005

Mutiara Debu Jalanan

    Soekarno Hatta ! Akhirnya tiba juga, setelah satu jam lima menit menempuh penerbangan Surabaya-Jakarta. Doel

melangkahkan kakinya keluar pintu pesawat menuju garbarata yang disediakan. Beberapa penumpang pesawat dengan setelan jas

terlihat bergegas, terburu-buru melewatinya. Mungkin mereka eksekutif instansi atau perusahaan yang tengah bertugas. Beberapa

lainnya terlihat santai seolah tidak memiliki jadwal yang mendesak. Sisanya asyik dengan handphone dan barang-barang

bawaannya.

    Doel mencangklong ransel hilfiger kecilnya. Melangkah dengan malas melewati pramugari-pramugari yang berdiri berjejer

sembari tersenyum. Mereka sibuk mengucapkan selamat jalan kepada para penumpang yang melangkah keluar.

    Dari jendela garbarata Doel sempat melirik pesawat yang tadi membawanya, sebuah Boeing 737-400. Model yang sering

dinaikinya bila ia mendapat tugas traveling. Dibelakangnya terlihat pemandangan pesawat diparkir rapi. Ada juga yang tengah

take off. Doel tersenyum tipis memandangnya. Waktu kecil dulu ia pernah punya cita-cita jadi pilot hehehe...

    Melewati beberapa jalur di bandara tersebut, sampailah Doel di bagian terluar bandara. Beberapa taxi tengah parkir

dalam format yang rapi.

    Doel menghampiri salah satunya, sebuah taxi dengan warna biru dengan logo bangau.

    Sang supir terlihat santai didalam. Ia tengah membaca-baca majalah. Sekilas Doel melirik cover depannya, Majalah Swa.

"Keren juga nih Bapak, bacaannya majalah bisnis", nyengir lebar Doel dalam hati.

    "Kosong, Pak ?"

    Si Bapak menutup majalah, mengakhiri bacaannya. Wajah sumringahnya menyapa Doel dengan ramah, "Iya nih Mas..". Ia

lalu keluar dan membukakan pintu untuk Doel.

    Surprise Doel dibuatnya....Namun dengan cuek dia menepiskan rasa 'surprise' tersebut. Taxi ini terlihat bersih dan

wangi. Beberapa majalah dan koran terlihat diatur rapi ditempatnya. Majalah-majalah dan koran-koran ekonomi, satu-dua

terlihat dalam terbitan mancanegara. Dipojok jendela belakang terlihat beberapa air mineral gelasan teratur pula dengan rapi.

    "Kemana ini, Mas ?"
    "Eh,.." buyar pengamatan Doel..,"Tanah Abang, Pak"

    Dengan anggun taxi tersebut berjalan perlahan keluar bandara.

    "Dari Surabaya nih, Mas ?" Si Bapak mencoba mengakrabkan suasana.
    "Iya,.. biasalah"
    "Wah.. kebetulan saya pernah juga tinggal di Surabaya beberapa lama..." Si Bapak mulai bercerita tentangnya.

    Doel hanya mendengarkan saja. Diam-diam ia sedikit heran dengan apa yang di dengarnya. Cara si Bapak bercerita,

bahasa dan pilihan kata yang digunakan terasa lebih halus dari orang kebanyakan. Beberapa kali terlontar istilah-istilah

dalam bahasa Inggris yang di ucapkan dengan lafal dan ejaan yang bagus sekali.

    Pikiran si Doel berputar cepat. Beberapa fakta dihubung-hubungkannya. Mulai dari pilihan majalah yang dibaca si

Bapak, jenis-jenis bacaanya yang tersedia di taxi, letaknya yang tersusun rapi, penampilan si Bapak yang terlihat sangat rapi

dan cara berkomunikasi yang terkesan begitu rapi dan tertata. Seperti orang-orang yang pernah mengecap pendidikan tinggi.. ??

Benarkah ?

    "Mas,... ini hari terakhir saya menjadi taxi driver. Mungkin mas ini penumpang saya yang terakhir.."
    "Lah ? Kenapa pak ? Koq berhenti ? Dapet kerjaan dimana nih ?"
    "Alhamdulilah, ada yang nawarin saya pekerjaan yang lain. Insya Allah mulai besok saya udah bertugas di tempat yang

baru."
    "Ooooo.."
    Si Bapak tersenyum lepas.
    Sepertinya, Doel menemukan moment tepat untuk mengungkapkan keinginantahunya. "Rasanya Bapak bukan driver biasa dech

Pak..."
    "Kenapa Mas bisa berpikiran begitu ?"
    "Hehehe... mohon maaf Pak, saya perhatikan dari tadi ini. Cara Bapak bicara dan menyampaikan cerita-cerita, pilihan

majalah yang Bapak baca sampai ke tatanan kerapian di taxi ini. Kayaknya nggak mungkin kalo latar belakang Bapak cuman driver

taxi biasa saja..."
    "Mas ini bisa aja..." sahut Bapak. Lalu ia tertawa kecil.
    "Benar dugaan saya Pak ... Aziz ?" Untuk pertamakalinya Doel menyadari bahwa ia belum tahu nama si Bapak. Namun

dengan segera ia menemukan nama yang ia cari diatas dashboard taxi.
    Pak Aziz kembali tertawa sembari menghembuskan nafas panjang...
    "Masa lalu saya lumayan pahit Mas... Dulu saya sempat bekerja di perusahaan export-import. Posisi dan kondisi

finansial saya lebih dari cukup. Namun kesuksesan tak selalu membuat orang lain senang. Semakin tinggi pohon, semakin terasa

kencang terpaan anginnya..." Lalu meluncurlah serangkain kisah hidupnya. Tentang kejatuhan seorang GM sebuah perusahaan

export-import karena terpaan fitnah. Tentang beratnya buntut dari fitnah itu. Tentang keluarganya yang terpaksa mengungsi

dari rumah. Tentang penjualan rumah serta mobil pribadinya untuk biaya hidup dan sekolah anak-anaknya. Tentang beratnya

perjuangan ia selama tiga tahun menjadi driver taxi. Tentang beratnya membuat sang buah hati memahami kondisinya saat ini.

Tentang sedihnya memperoleh cemoohan dan diremehkan....

    Hingga akhirnya datanglah rezeki itu, buah dari kesabaran dan keihklasannya menjadi driver taxi.

    Dimana pun, sebuah permata tetaplah permata. Sekalipun terselip diantara lumpur pekat ataupun debu pekat jalanan

Jakarta. Hanya butuh seseorang yang paham akan nilainya untuk menemukannya. Dan kemudian, mengangkatnya kedalam sebuah

bingkai yang tepat.

    Seorang asing yang kebetulan menumpang taxinya yang berkenalan dengannya. Ia merasa bertarik dengan Pak Azis karena

kejujurannya. Dikala banyak orang lain berusaha mengeruk duit sebanyak-banyaknya karena dia seorang expatriat, Pak Azis

mengulurkan keikhlasannya dengan tulus. Pertemuan demi pertemuan berikutnya membuat kepercayaan sang expatriat kian

kuat.Apalagi background dan pembawaan Pak Azis dapat menjadi modal yang sangat mendukung bisnisnya di Jakarta.

    Tibalah hari itu, hari dimana sang expatriat memintanya datang ke kantornya. Hari dimana sang expatriat memintanya

secara profesional untuk sudi membantunya bekerja. Hari dimana berakhirnya perjuangan berat selama tiga tahun belakangan ini.

Dan hari dimana Pak Azis dengan berat hati harus mengatakan selamat tinggal kepada rekan-rekan driver seperjuangannya yang

selama ini setia berbagi dengannya...

    *****

    Doel memandangi taxi Pak Azis yang kian menjauh... Sebuah mutiara hikmah kini tergenggam di hatinya.....

April 06, 2005

A Morning Scene

Pagi yang dingin dan mendung. Saking dinginnya, secangkir kopi hangat menjadi candu yang mengobati dinginnya pagi. Dan juga candu yang membuat kandung kemih semakin aktif bekerja, hehehe… Perasaan pengen pipis akan semakin mendera, beberapa saat setelah minum kopi hangat. Begitu juga dengan Va, rekan kerjaku. Setelah beberapa saat puas meledekku yang bolak-balik kebelet ke toilet, sekarang kena batunya juga dia,..hihihii… Terburu-buru Va menuju toilet, hampir bertabrakan dengan seorang ibu-ibu gemuk perlente yang barusan keluar dari toilet wanita. Seorang wanita karir, sesuatu yang biasa di gedung ini. Va memperlambat langkahnya.

Hihihi,.. mirip tanteku, batin Va berkata. Sudut matanya sempat mengikuti langkah "si tante" tersebut. Sebuah scene singkat terekam dalam memorinya.

Si tante melewati seorang cleaning services. Parasnya cukup lamayan. Terlihat charming dan cerdas. Mungkin pernah mengecap bangku kuliah. Seragam biru muda yang dikenakannya rapi dan licin, dengan name-tag tertulis "Yayuk". Disaku celana kanannya terselip sebuah buku. Sekilas ekor mata Va sempat menangkap tulisan-tulisan kapital di covernya, "Six Sigma…". Sesuatu yang tak biasa bagi seorang cleaning service biasa. Dia tengah asyik membersihkan lantai dekat toilet wanita, sebuah rutinitas hariannya. Sesekali terdengar dia bersenandung halus.

Tiba-tiba si tante berhenti tepat di hadapan Yayuk, gadis cleaning services itu. Memandang wajahnya lekat-lekat sejenak dan berkata, "Jeng,… kamu ini pinter, wajahnya lumayan. Masak cuman jadi cleaning service sih ? "

Yayuk tercekat. Sepertinya kaget atas pertanyaan tersebut. Sejenak kemudian, dia sudah memperoleh kembali kontrol dirinya. Dengan terbata-bata dia menjawab, "Eh,.. i,..iya. Sedang cari-cari nih…"

Si tante memandang dari atas kebawah dengan dahi sedikit berkerut, lalu tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, ngeloyor meninggalkannya.

Bergegas, Yayuk menuju pintu janitor yang tak jauh dengannya. Masuk dan menutup pintunya. Mungkin dia melanjutkan kerjaannya yang lain

Va merekam semua kejadian itu dengan beragam kesan tak menentu terhadap si tante. Dia pun  bergegas menuju kamar kecilnya.

Beberapa saat kemudian Va keluar dari kamar kecil. Tak sengaja, berpapasan kembali dengan Yayuk, cleaning service yang tadi. Matanya sembab dan sisa isak tangis yang masih melekat di dirinya. Mungkin ucapan si tante sebelumnya telah menohok sisi galau batinnya, pikir Va. Atau mungkin dia terpaksa bekerja di bawah kemampuannya. Mungkin juga dia sebenarnya S1 atau sedikitnya D1 yang terpaksa bekerja seperti ini. Ah,..ada banyak sekali Yayuk-Yayuk lain di negeri ini…

Va masygul membayangkan hal ini,…

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31